Merasa khawatir dan sedih pada kehamilan yang kedua
Saya seorang ibu (32 tahun) dan saat ini saya sedang mengandung 7 bulan, untuk menantikan anak ke dua saya. Oleh dokter kandungan dinyatakan bahwa ari-ari janin ada di bawah sehingga dikhawatirkan akan menutupi jalannya bayi ke luar. Oleh sebab itu dua minggu sebelum waktu yang diperkirakan untuk melahirkan, saya sudah harus menginap di rumah sakit.
Sekarang , menjelang hari-hari kelahiran, saya diliputi kecemasan luar biasa yang saya sendiri tidak tahu penyebabnya. Bangun tidur pagi, tiba-tiba saja saya merasa sedih sekali dan bisa membuat saya menangis sesenggukan. Kadang saya juga marah tanpa sebab.
Bahkan pernah, anak sulung saya hampir saya pukul karena menumpahkan sup di meja makan. Satu hal yang tak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya juga sering malas bicara dengan siapa pun. Saya juga merasa malas untuk bangun dari tempat tidur. Bahkan mandi pun malas kalau tidak dipaksa ibu yang tinggal bersama kami.
Suami dan ibu heran melihat perilaku saya. Saya sendiri menyadari perilaku saya termasuk aneh. Sebab, di awal-awal kelahiran, saya selalu bersikap santai dan berlaku seperti biasanya. Waktu saya mengandung anak pertama, rasanya saya tidak berperilaku aneh seperti sekarang ini. Mengapa saya sekarang cepat merasa marah, sedih, dan maunya bermalas-malasan?
Endah Sukrisno - Jakarta
Perasaan sedih (depresi), marah dan menjadi malas melakukan sesuatu, merupakan reaksi terhadap stres yang sedang Ibu alami. Ada 2 faktor utama yang mempengaruhi reaksi seseorang terhadap stres, yaitu faktor internal dan eksternal.
Faktor internal mencakup temperamen/kepribadian yang berkaitan dengan reaksi seseorang dalam menghadapi masalah: apakah bersikap optimis/pesimis, aktif/pasif, dan sebagainya. Faktor eksternal adalah hal-hal di luar diri, misalnya keluarga, teman atau orang dewasa lain yang berperan dalam menambah atau mengurangi beban masalah.
Saat menghadapi suatu situasi yang menimbulkan stres, secara wajar seseorang akan berusaha untuk mengatasi situasi tersebut melalui perilaku-perilaku tertentu yang disebut perilaku coping. Secara garis besar ada 2 kategori coping, yaitu coping terpusat masalah dan coping terpusat emosi. Pada coping terpusat masalah, ada tindakan aktif yang dilakukan untuk mengontrol sumber stres, sedangkan pada coping terpusat emosi, ditandai oleh usaha-usaha yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapat dukungan sosial atau memperoleh simpati dan pengertian dari orang lain.
Selain kedua jenis coping tersebut di atas ada jenis coping lain yang sering digunakan oleh seseorang, yaitu respon coping tidak adaptif. Beberapa contoh perilaku coping yang tidak adaptif adalah bila menghadapi situasi stres, seseorang hanya berdiam diri tanpa melakukan usaha-usaha tertentu atau bertindak agresif.
Reaksi mudah marah, sedih, tidak ingin melakukan apa-apa merupakan reaksi terhadap stres yang sedang Ibu alami. Sedangkan jenis coping yang Ibu lakukan adalah yang terpusat pada emosi dan respon tidak adaptif. Pencetus stres adalah informasi dokter yang mengatakan bahwa 2 minggu menjelang kelahiran, Ibu perlu menginap di rumah sakit karena letak ari-ari di bawah dan akan menimbulkan risiko menutupi jalan lahir bayi.
Ada beberapa hal yang belum saya ketahui secara jelas, yaitu bagaimana reaksi Ibu sehari-hari dalam menghadapi situasi yang kurang menguntungkan dan seberapa besar kesiapan Ibu saat menerima kehamilan anak ke-2,apakah memang sangat dinantikan atau hamil di luar rencana. Apakah Ibu bekerja atau tinggal di rumah, karena hal ini juga merupakan faktor yang ikut menentukan reaksi Ibu terhadap stres. Mungkin juga ada pertimbangan lain seperti harus meninggalkan anak pertama dan adanya biaya tak terduga yang harus dikeluarkan karena Ibu harus tinggal di rumah sakit untuk waktu yang lebih lama.
Kondisi lain yang berperan besar dalam munculnya stres saat ini adalah usia kandungan Ibu yang berada pada trimester ke-3 (antara 7 - 9 bulan). Biasanya pada trimester ke-3 dapat muncul gangguan emosi pada para ibu karena saat melahirkan sudah di ambang pintu, para ibu mencemaskan proses kelahiran yang akan dijalani, apakah akan berjalan dengan lancar atau tidak, bagaimana kondisi fisik serta mental sang bayi. Rasa cemas makin memuncak setelah Ibu mengetahui "kelainan" letak ari-ari.
Saran saya, Ibu harus "keluar" dari keadaan emosi negatif agar tidak terlarut dalam keadaan sedih, marah yang terus-menerus. Ibu harus menggunakan coping terpusat masalah, bersikap lebih rasional karena dalam hal ini sangat tidak tepat kalau Ibu hanya memikirkan keadaan diri sendiri. Ibu dapat menyibukkan diri dengan melakukan aktivitas bersama teman atau keluarga, melakukan senam hamil bila diizinkan oleh dokter. Pikirkan dampak perilaku Ibu terhadap anak pertama yang mendapat perlakuan kurang tepat ataupun dampak terhadap janin yang sedang dikandung.
Menurut penelitian, emosi ibu saat hamil akan berkorelasi dengan kelancaran proses persalinan dan temperamen anak yang dilahirkan. Bila emosi ibu selama hamil lebih banyak diwarnai oleh emosi negatif, umumnya proses kelahiran menjadi lebih sulit. Selain itu bayi sulit beradaptasi dengan lingkungan baru (di luar kandungan), menjadi rewel, kurang nafsu makan, dan sebagainya.
Dalam hal ini, perlu adanya dukungan suami atau orang dewasa lain yang ada di lingkungan Ibu untuk menenangkan, memberi dukungan saat Ibu merasa sedih, mengajak Ibu untuk mengkomunikasikan uneg-uneg yang dirasakan, mengajak ibu melakukan aktivitas bersama. Jangan segan-segan untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan yang selama ini menangani kehamilan Ibu untuk membicarakan tindakan apa yang perlu dilakukan untuk mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan.
Selamat berusaha! Saya yakin, setiap manusia mempunyai kemampuan untuk berubah ke arah yang lebih positif dan menjadi lebih dewasa serta bijaksana.
Dra. Mayke Tedjasaputra






Recent comments
43 weeks 6 days ago
43 weeks 6 days ago
1 year 7 weeks ago
1 year 19 weeks ago